At The End of Winter [Chapter 1]

At The End of Winter

[ Chapter 1]

Story cast

Cho Kyuhyun as himself

Seo Joohyun as herself

Disclaimer

This story is writen by Dea Dhara. The storyline one hundred percent is a result of the author creativity, any similiarity from other stories are unintentional case. Don’t copy the whole story or half story without any permission from the author. Any violation can be claimed as a criminal case and the author can demand others that doing that.

Regards, author.

***

Saat itu, kami masih terlalu muda untuk mengetahui semuanya. Saat itu, kami masih terlalu polos untuk mengerti apa yang terjadi. Saat itu, kami masih terlampau bodoh untuk mengerti apa yang mereka bicarakan. Jika saat itu, kami sudah cukup untuk mengetahui apa yang terjadi. Jika saat itu, kami tidak terlampau polos untuk memahami semuanya. Dan, jika saat itu kami cukup pintar. Kami yakin, semua tidak akan berakhir seperti ini. Kau, aku dan dia, sebuah akhir yang lebih indah pasti akan hadir disini. Jika saat itu….

 

Seoul International Airport, 28 Juli 2015

Gerbang kedatangan tampak ramai seperti biasanya, beberapa orang yang sedang menanti kerabat, saudara atau kekasih mereka nampak berjejer rapi di pinggir pembatas sambil melongok kesana kemari. Beberapa terlihat megintip dari pinggir kaca pembatas untuk menemukan wajah orang yang mereka cari. Tepat saat pintu itu terbuka, berbagai macam ekspresi terlihat dari wajah orang-orang yang menunggu.

Seorang lelaki dengan postur tubuh tingginya terlihat mencolok diantara kerumunan tersebut. Ia berjalan dengan langkah tegasnya, di wajahnya berterngger sebuah kacamata hitam merek ternama. Tubuhnya berbalut kaos putih polos yang dilapisi sebuh jas kotak-kotak senada dengan celananya. Ia nampak menengok ke kanan dan ke kiri mencari-cari seseorang yang beberapa menit yang lalu berkata bahwa sudah menunggunya.

“Kyuhyun-ah!”

Suara berat yang lantang itu segera membuat Kyuhyun menoleh, melepas kacamatan hitamnya kemudian tersenyum dengan lebarnya. Ia berlari kecil untuk menghampiri lelaki itu kemudian menepuk pundaknya.

“Bagaimana kabarmu hyung? Sudah lama sekali aku tidak melihat wajahmu”

“Haha, Kyu, sepertinya baru kemarin kita melakukan video call dan kau bilang itu sudah lama?”

Kyuhyun mengedikan bahunya singkat kemudian melangkah duluan. “Kemarikan kuncinya, aku akan mengendarai mobilmu”

Lelaki itu, Siwon segera melemparkan kunci mobil miliknya sambil tersenyum singkat. Ia berjalan cepat mengejar Kyuhyun dan menepuk pundaknya, lelaki itu sedikit menghela napas singkat kemudian menoleh kearah Kyuhyun.

“Semoga konsermu besok sukses Kyu”

“Tentu saja, hyung!”

***

Jalanan kota Seoul tidak banyak berubah semenjak 7 tahun terakhir ini. Begitu juga musim dingin tahun ini tidak banyak berubah semenjak tahun itu. Masih tetap dingin, sangat dingin. Bangunan-bangunannya pun tidak banyak berubah, masih seperti dulu masih diselimuti salju putih bersih yang nampak membekukan segalanya. Beberapa bangunan kecil yang terselip diantaranya hanya terlihat seperti tumpukan salju yang tak berdaya.

Kyuhyun menyetir dengan santai sambil menikmati pemandangan Kota Seoul yang sudah cukup lama ia tinggalkan. Sesekali ia menggumamkan lirik lagu yang diputar melalui tape yang ada di mobil. Sesekali juga ia menoleh ke arah Siwon yang kini nampak melamun.

“Ada apa hyung? Tidak biasanya kau melamun”

Siwon tergelak kemudian langsung menegakkan tubuhnya, “Ah? Apa begitu? Aku hanya sedang banyak pikiran, kau menyetir saya Kyu tidak usah hiraukan aku”

Kyuhyun membalas dengan anggukan singkat kemudian kembali memfokuskan dirinya dalam menyetir.

Siwon sesekali nampak melirik Kyuhyun dengan mulutnya yang terbuka tertutup seperti hendak mengatakan sesuatu. Ia mendesah singkat.

“Hmm..Kyu?”

Ne?”

“Ah tidak, sebaiknya kita langsung ke rumah saja. Kau harus siap-siap untuk gladi resikmu besok kan?”

Kyuhyun mengerutkan dahinya kemudian bergumam singkat menyetujui apa yang Siwon katakan. Ia mengelus dagunya, kemudian mangambil kacamata hitamnya yang sebelumnya diletakan di atas dashboard. Beberapa hal mengusik pikirannya, terutama hal yang menyebabkan ia kembali menginjakan kaki di negeri gingseng ini.

***

Mereka turun dari mobil setelah mematikan mesin mobilnya. Kyuhyun menginjak benda putih dingin itu kembali, ia berjalan kearah bagasi mobil sembari mengeratkan jaket tebal berwarna biru dongker yang sudah ia kenakan sedari tadi. Langkahnya terlihat malas-malasan tidak setegas langkahnya tadi saat berjalan keluar dari pintu kedatangan.

Hyung, eomma appa eodiga? Sepertinya sepi sekali”

Sambil mengedikan bahunya singkat Siwon membuka bagasi mobil dan mulai mengeluarkan barang-barang bawaan Kyuhyun. “Entahlah tadi mereka bilang akan pergi ke Osan”

Kyuhyun segera menoleh cepat. Rahangnya nampak mengeras kemudian berujar dengan terbata-bata “O..os..osan? Kenapa?”

Siwon tersenyum tipis kemudian kembali memfokuskan pandangannya pada koper-koper yang sudah hampir habis “Kau bisa telepon mereka saja kalau penasaran, Kyu”

Kyuhyun mengangguk singkat, langkahnya semakin terlihat melambat. Ia berjalan mendekati koper miliknya dan mulai menariknya, membawanya masuk ke dalam pekarangan rumah yang seluruhnya berwarna putih itu. Tangannya terlihat bergetar saat akan memasukan password untuk membuka pintu rumahnya. Kyuhyun menghirup napasnya dalam-dalam, menyesap aroma rumah yang sudah lama ia tinggalkan.

Mata tajam lelaki itu bergerak menyisiri ruangan tersebut, tidak banyak berubah, hanya beberapa hiasan baru saja nampak menghiasi ruangan tersebut. Bibirnya terangkat sedikit begitu ia melihat benda favoritnya masih bertengger apik ditempat yang sama. Ia berjalan mendekati piano berwarna coklat klasik tersebut. Menekan-nekan pelan tutsnya dengan irama yang indah, sebelum ia benar-benar terhanyut dengan permainannya, Siwon menepuk pelan pundak Kyuhyun.

“Kau bisa istirahat dulu Kyu tidak perlu latihan sekarang”

“Hanya bernostalgia” jawab Kyuhyun singkat.

Ia merenggangkan jari jemarinya yang terasa agak kaku karna perjalanannya dari Paris ke Korea Selatan hari ini. Kyuhyun menegakkan tubuhnya jari jemarinya mulai bergerak dengan lincah diatas tuts hitam putih tersebut. Alunan nada indah terdengar menggema di ruangan tersebut. Kyuhyun sesekali memejamkan matanya menikmati alunan nada Etude en forme de variations. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai macam hal yang sejak tadi sudah memenuhi kepalanya dan saat itu juga ia menghentikan permainannya.

“Hah….” helaan napas berat kembali ia keluarkan, entah sudah kali keberapa ia harus menghela napas pada hari pertamanya di Korea ini. Kyuhyun bangun dari duduknya dan berjalan kearah dapur, berjalan mendekati kulkas dan mengambil sebotol air mineral dingin yang tersedi disana. Dengan nikmat ia meneguk air mineral tersebut hingga tinggal setengahnya.

Getaran pada saku celananya membuat Kyuhyun menghentikan kegiatannya, ia segera mengambil ponsel tersebut dan dengan segera senyumnya merekah begitu melihat nama yang tertera pada layar ponsel tersebut.

Yeoboseyo” suaranya laki-laki itu terdengar sedikit tertahan dengan nada menggoda, wajahnya yang terkadang nampak jahat itu kini terlihat mengukir sedikit senyum manis.

Ne, Yian noona aku baik-baik saja. Kau sendiri?”

Anggukan singkat diiringi dengan tawa kecil terdengar dari ruangan itu begitu Kyuhyun mendengar jawaban orang diseberang sana.

Ne, arraseo. Besok setelah aku gladi resik aku akan langsung menjemputmu, saranghae noona-ya

Kyuhyun menutup telepon genggamnya. Wajahnya nampak sumringah setelah menerima telepon tersebut, apa yang sedari tadi ia pikirkan seolah langsung lenyap begitu saja. Dengan sedikit tergesa-gesa ia pergi mengambil kopernya yang tergeletak di ruang tamu dan dengan segera membawanya ke dalam kamar.

Lelaki itu membuka koper berwarna silver itu dengan senyuman yang tak lepas dari sana. Sambil mencari-cari sesuatu yang ia sukai, Kyuhyun menggumamkan irama asal yang terdengar cukup menarik.

“Kyu..” suara ketukan pintu dan suara berat Siwon yang bergantian menghentikan gerakan Kyuhyun.

“Masuk saja hyung!

“Yian?” kata pertama yang Siwon ucapkan begitu masuk ke dalam kamar membuat Kyuhyun segera menoleh.

“Apapun itu aku tidak ingin mendengar komentarmu hyung

“Aku tidak perlu komentar apapun Kyu, hanya butuh kesadaranmu saja. Kau masih memiliki tanggung jawab besar, sangat besar, semenjak kejadian itu”

Kyuhyun mendesah singkat, raut wajahnya segera berubah 180 derajat dari sebelumnya, “Kejadian? Kejadian apa? Kejadian konyol yang tidak seharusnya aku ingat”

“KONYOL? Ck, jika kau tau yang sebenarnya kau tidak akan pernah beranggapan bahwa itu konyol!”

Decakan demi decakan silih berganti terdengar dari mulut kakak beradik tersebut. Siwon keluar kamar dengan membanting pintu. Kyuhyun segera berdiri mengunci kamarnya, berjalan menuju kasur dan merebahkan dirinya diatas kasur tersebut. Matanya menatap kosong langit-langit kamar yang terlukiskan awan putih bersih dengan langit biru.

“Langit…biru…”

Dua kata yang ia gumamkan membuatnya memikirkan hal “konyol” yang ia katakan tadi. Konyol? Atau tidak mengetahui makna kejadian itu? Entahlah, lelaki itu bahkan belum bisa menemukan jawabannya, hingga saat ini. Setelah 7 tahun lamanya telah berlalu.

***

Aroma musim dingin begitu terasa dipagi hari ini, angin berhempus sepoi namun terasa sangat menusuk hingga ke tulang-tulang. Seorang anak kecil berlari-lari kecil sambil memeluk tubuhnya erat yang padahal sudah dilapisi dengan jaket tebal berwarna merah tua yang dihiasi bulu dipinggiran kupluk dan tangan, anak kecil itu juga menggunakan sarung tangan berwarna putih bersih yang menghangatkan jemarinya.

Kling~

Suara bel tanda ada seseorang yang masuk ke dalam toko bunga tersebut terdengar nyaring. Anak itu terlihat menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya lagi sehingga keluarlah uap melalui celah mulutnya.

Eomma! Eodi..” teriakannya terputus begitu ia melihat sosok dua orang asing yang berdiri dihadapannya. Ia tersenyum singkat kemudian membungkuk.

Oseo oseyo di toko bunga Haengbog milik kami, ada yang bisaku bantu?”

Anak kecil berumur sekitar 6 tahunan itu kembali memandang dua orang dewasa yang nampak takjub dengan anak ini. Sesekali ia memiringkan kepalanya sambil merapatkan jaketnya dan berkedap-kedip manis.

Ajjeossi, Ajjumoni, ada yang bisa ku bantu?”

“Ah, ne, kami ingin membeli sebuket bunga tulip warna merah, oranye, dan pink. Apa kau bisa membuatkannya?”

Anak kecil itu menggeleng singkat “Aku tidak bisa, tapi eomma ku bisa, sebentar ya akan kupanggilkan”

Anak laki-laki itu berlari kecil kearah belakang toko sambil sesekali menoleh kearah belakang. Langkah kakinya terhenti begitu ia melihat sang ibu sedang memetik beberapa tangkai mawar yang ada di halama belakang.

Eomma, ada pelanggan, mereka ingin sebuket bunga tulip berwarna merah, oranye, dan pink”

Wanita muda itu menoleh kearah suara bocah laki-laki yang selalu ia dengar selama 7 tahun ini. Merasakan sang bocah berada tepat disampingnya, wanita itu segera meraih wajah anak itu.

Arraseo, Kanghoon-ah tunggu sebentar eomma akan merapikan ini terlebih dahulu” anak laki-laki itu menggeleng cepat begitu mendengar jawaban sang ibu. Bibirnya dibuat mengerucut imut dan alisnya yang tertutup poni rambut mangkoknya menyatu erat.

“Tidak, tidak boleh! Biar Hoon saja yang merapikannya, eomma silahkan kedepan, tidak baik membuat pelanggan menunggu”

Arraseo, Hoon-ah

Eomma hati-hati!”

Ne!”

Wanita itu segera pergi meninggalkan halaman belakang tersebut. Senyum manisnya tidak pernah pudar dari wajahnya yang terlihat sedikit pucat namun tetap menampilkan ekspresi bahagia. Sesekali ia bersenandung pelan, nada-nada indah Romance de Amor terdengar mengalun merdu dari senandunganya.

“Halo, maaf menungg..”

“Hyun-ah…”

Nuguseyo?”

***

Flashback On

7 tahun sebelumnya

Hembusan angin malam di Kota Osan membuat siapapun merapatkan jaket-jaket tebal yang mereka kenakan. Sesekali mereka juga menggosokan kedua telapak tangan mereka satu sama lain. Di jalan setapak taman ini, di Mulyanggi, beberapa orang dan beberapa pasang kekasih berlalu lalang sambil bercanda ria di bawah sinar rembulan, di tengan dinginnya malam.

Oppa, saat kau mengadakan konser pertamamu di luar negeri nanti, lagu apa yang akan kau mainkan?”

Lelaki itu melirik tanpa minat kearah seorang gadis yang berjalan disebelahnya. Sesekali ia mendongak atau merapatkan jaketnya yang tebal itu mencoba menghiraukan apa yang diucapkan gadis disampingnya ini.

Oppa, kau mendengarkan aku bukan?”

Gadis itu kembali bertanya namun hanya gumaman singkat yang ia dapatkan. Ia menoleh kearah kanan tepat dimana lelaki pujaan hatinya tengah berjalan disampingnya, mata lelaki itu tampak kosong dan hanya memandang lurus ke depan. Gadis itu, Seohyun, ia menarik sedikit lengan jaket milik lelaki di sebelahnya.

Oppa, wae geurae?

Merasa lengannya diusik lelaki itu segera menghentikan langkahnya, ia menoleh kearah gadis yang mengenakan syal merah muda di lehernya itu. Ia menatap teduh mata gadis itu.

Mianhae Hyun­-ah sebaiknya kita pulang saja, aku merasa sedikit lelah”

Seohyun mengangguk singkat, ia tersenyum manis, manis sekali, baginya apapun yang lelaki itu ucapkan adalah sebuah perintah untuknya, ia akan menurutinya, apapun itu.

Flashback Off

Alunan nada demi nada terdengar mengalun dengan indah di dalam sebuah ruangan. Nada yang terselip rasa bahagia dan duka dalam setiap ketukannya. Kyuhyun, lelaki itu nampak memejamkan matanya sesekali sambil menikmati permainannya.

Romance de Amor, tidakkah itu sudah terlalu sering kau mainkan, Hyun-ah

“Hyun…” tepat saat suara seorang wanita terdengar, alunan nada indah tersebut berhenti seketika. Kyuhyun menoleh ke samping kirinya, seorang wanita berparas manis berdiri tepat di sebelahnya. Lelaki itu tersenyum kecil.

Noona, bukankah sudah kuk katakan kalau aku akan menjemputmu?”

Gadis itu, Yian, ia segera menggeleng singkat sambil berujar “Aniya, aniya, aku tahu kau masih lelah karena itu aku kesini. Siwon oppa dimana?”

“Kau selalu menanyakannya saat sedang bersamaku, Yian noona” nada bicara lelaki itu terdengar datar. Ia langsung memainkan jarinya diatas tuts-tuts piano begitu mendengar pertanyaan gadis di sampingnya itu. Dentingan demi dentingan itu menghasilkan nada yang terdengar menggebu pada bait awal namun bagi penikmatnya akan terdengar sangat indah.

Etude en forme de Valse, maaf kalau aku membuatmu kesal Kyu. Kau tahu bukan aku kurang menyukai lagu itu”

“Aku tidak memainkannya untukmu, noona. Maaf aku harus ke kamar”

Kyuhyun bangkit begitu saja dari kursi tersebut. Dengan langkahnya yang tegas lelaki itu berjalan menuju kamarnya, terdengar dentuman yang cukup keras saat ia menutup pintu kamar dan saat itu juga Yian menghela napas berat.

Lelaki itu berdiri dibalik pintu kamar, pandangannya menuju keatas, menatap langit-langit kamarnya yang nampak menenangkan. Semenjak ia datang ke Korea, perasaannya tidak pernah tenang.

Deringan dan getaran ponsel di atas buffet membuat Kyuhyun sadar dari lamunannya, ia segera bergegas dan mengangkat telepon tersebut, nada dering khusus yang ia pasang membuat laki-laki itu segera tahu siapa yang menelepon.

Eomma, kenapa?”

“Menjemputmu? Bukankan kalian membawa mobil?”

“Oo..o..s..san? Eomma kenapa kalian bisa berada disana? Kau tahu aku tidak pernah mau kesana lagi, kenapa kalian selalu pergi ke tempat aneh sih? Biarkan hyung saja yang menjemput kal…”

Belum sempat Kyuhyun melanjutkan pernyataannya teriakan dari luar pintu membuatnya berdecak kesal. “Tidak bisa! Aku akan pergi dengan Yian”

Ara, ara, aku akan menjemput kalian. Berikan aku lokasinya aku akan segera kesana, eomma rapatkan jaketmu udara di luar sangat dingin, saranghae

Kyuhyun menutup ponselnya dengan tampang datar. Ia segera mengambil kunci mobil Siwon yang sebelumnya ia gunakan, masa bodoh lelaki itu akan pergi dengan apa, jika ia mau boleh saja menggunakan mobilnya yang sudah dianggurkan selama 3 tahun ini, itu juga kalau masih bisa dinyalakan. Kyuhyun mengedikan bahunya singkat memikirkan hal itu, ia segera bergegas mengganti pakaiannya dengan beberapa lapis kaos, kemeja dan terakhir jaket tebal berwarna hijau lumut yang baru ia beli tahun lalu.

Suara tawa diluar ruangan membuat Kyuhyun cemberut, apapun perasaanya atau apapun yang terjadi di luar sana lelaki itu tidak menyukainya.

Hyung aku pakai mobilmu, eomma dan appa minta dijemput, annyeong!

Tanpa menunggu persetujuaan dari sang kakak Kyuhyun segera berlari keluar halaman sesekali ia mendengar umpatan-umpatan samar yang Siwon lontarkan. Ia tertawa kecil, rumah itu sepertunya membuatnya benar-benar sumpek. Saat keluar walau baru 5 langkah dari depan pintu ia sudah bisa tertawa.

***

Tidak jauh berbeda, ya, udara disini memang tidak jauh berbeda dari di Kota Seoul. Namun begitu keluar dari mobil ia merasa udara di kota ini terasa lebih menusuk dirinya, sangat tajam.

Rute yang eoomanya berikan tidak diijinkan dilalui mobil, setelah kurang lebih 35an km ia mengendarai mobil sepertinya inilah saatnya laki-laki itu berjalan kaki. Ia mulai berjalan menyusuri area perumahan yang cukup luas tersebut, namun entah mengapa mobil dilarang masuk pada area tersebut.

“Toko bunga Haengbog…” gumaman kecil ia gumamkan begitu melihat plang nama tempat yang ia tuju, sebuah toko bunga sederhana berdinding kayu nampak sangat mencolok diantara bangunan-bangun beton yang ada di sekelilingnya. Ia segera berlari kecil kearah toko bunga tersebut hingga sesuatu menghentikan dirinya.

Dari kejauhan Kyuhyun melihat eommanya mengelus puncak kepala seorang wanita, seharusnya ia mengenalnya, ya wanita itu..seharusnya ia mengenalnya.

“H..hy..hyun..”

-END OF CHAPTER 1-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s